ANTIINFLAMASI
Inflamasi merupakan suatu respon dari
tubuh terhadap adanya cedera maupun infeksi. Saat terjadi cedera, tubuh akan
berusaha menetralisir dan mengeliminasi agen-agen berbahaya dari tubuh serta
melakukan persiapan untuk perbaikan jaringan (Sherwood, 2001). Adanya proses
inflamasi ditandai ciri yang khas, yaitu timbulnya warna kemerahan,
pembengkakan di daerah peradangan, rasa panas, dan timbulnya rasa nyeri
(Corwin, 2008).
Inflamasi
merupakan suatu respon protektif normal terhadap luka jaringan yang disebabkan
oleh trauma fisik, zat kimia yang merusak, atau zat-zat mikrobiologik.
Inflamasi adalah usaha tubuh untuk menginaktivasi atau merusak organisme yang
menyerang, menghilangkan zat iritan, dan mengatur zat perbaikan jaringan.
Inflamasi juga merupakan proses vitak untuk semua organisme dan berperan baik dalam mempertahankan
kesehatan maupun dalam terjadinya berbagai penyakit yang dicetuskan oleh
pelepasan mediator kimiawi dari jaringan yang rusak dan migrasi sel. Mediator
kimiawi spesifik histamin dan 5-hidroksitriptamin; lipid, seperti
prostaglandin, peptida kecil, seperti bradikinin; dan peptida besar, seperti
interleukin. Penemuan variasi yang luas diantara mediator kimiawi telah
menerangkan paradoks yang tampak bahwa obat-obat antiinflamasi dapat
mempengaruhi kerja mediator utama yang penting pada satu tipe inflamasi tetapi
tanpa efek pada proses inflamasi yang tidak melibatkan mediator target obat
(Mycek, 2001).
Inflamasi
dapat bersifat lokal dan sistemik, dapat juga terjadi secara akut atau kronis
yang menimbulkan kelainan patologis. Pengobatan inflamasi mencakup dua aspek,
yang pertama adalah meredakan nyeri yang seringkali menjadi gejala dan yang
kedua adalah upaya penghentian proses kerusakan jaringan. Inflamasi dapat
diatasi dengan menggunakan anti-inflamasi, salah satunya yaitu golongan
anti-inflamasi non steroid (AINS). AINS merupakan obat sintetik dengan struktur
kimia heterogen. Namun penggunaan AINS dapat menimbulkan efek samping pada
saluran cerna. Penggunaan obat golongan steroid secara sistemik sebagai
antiinflamasi dalam waktu yang lama justru memberikan efek samping berupa
penurunan sintesis glukokortikoid endogen, menurunkan respon imun tubuh
terhadap infeksi, osteoporosis, moonface
dan hipertensi (Lelo, 2004).
DAFTAR PUSTAKA
Corwin,
E.J. 2008. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Lelo,
A., & Hidayat. 2004. NSAIDS: Friend or Foe. Journal of the Indonesia Dental
Association. 1(1).
Mycek,
J.M. 2001. Farmakologi Ulasan Bergambar. Jakarta: Widya Medika
Sherwood,
L. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem Edisi II. Jakarta: EGC.
Makasih infonya
BalasHapusmakasih informasinyaa... :)
BalasHapusMakasih infonya
BalasHapusTerimakasih infonya
BalasHapusTerima kasih kaa infonya
BalasHapusHmmm jadi inflamasi itu peradangan ya~
BalasHapusMakasih infonyaaaa